Home

Ferdinand Mongin de Saussure

Risk dalam Perspektif Saussure Risk dalam Perspektif Saussure Oleh Ruslan Effendi / Publikasi Kebijakan Bagaimana cara negara menerjemahkan ketidakpastian global […]

Capaian kognitif Siswa SMP dan MTs

Pemerintah tidak perlu membedakan skema intervensi anggaran berdasarkan sektoral kementerian. Alih-alih memperdebatkan superioritas antara sekolah umum dan madrasah, fokus kebijakan nasional harus diarahkan pada pemerataan akses infrastruktur digital dan peningkatan kompetensi pedagogis guru secara inklusif.

Gap literasi numerasi

Temuan empiris ini menyampaikan pesan penting bagi perumusan kebijakan pendidikan: intervensi sarana dan prasarana tidak boleh dilakukan secara buta (blind investment). Pengadaan komputer terbukti mendistorsi keseimbangan kemampuan kognitif siswa karena konsisten dalam koridor literasi semata tanpa menyentuh dimensi numerasi. Ke depan, orientasi kebijakan sekolah negeri harus bergeser dari sekadar "penambahan aset fisik" menuju pemerimbangan pedagogis. Infrastruktur digital dan literasi harus benar-benar dirancang untuk mengkatrol kemampuan penalaran logika matematika dan bahasa secara bersamaan.

rasio guru terhadap siswa

Temuan artikel ini membawa kita pada kesimpulan yang tidak nyaman namun perlu: pendidikan kita mengalami diminishing returns terhadap input fisik. Menambah "jumlah" guru atau "jumlah" ruang kelas sudah mencapai titik jenuh efisiensinya. Alih-alih terus mengejar target kuantitatif, kebijakan pendidikan harus mulai bergeser pada kualitas interaksi pedagogis. Investasi bukan lagi pada "seberapa banyak" guru atau kelas yang tersedia, melainkan pada bagaimana "guru yang sudah ada" mampu mengelola kelas dan memberikan pendampingan yang lebih substantif kepada siswa. Sekolah negeri tidak memerlukan lebih banyak kelas, sekolah negeri memerlukan kelas yang lebih bermakna.

Scroll to Top